Hijaubiru: Novel/Buku -- Naik Gunung
Tampilkan postingan dengan label Novel/Buku -- Naik Gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel/Buku -- Naik Gunung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juli 2015

Rengganis (Altitude 3088)
Juli 11, 2015 2 Comments



Judul: Rengganis
Penulis: Azzura Dayana
Penerbit: Indiva Media Kreasi, Surakarta
Tahun terbit: Agustus 2014 (cetakan pertama)
Tebal: 232 halaman


Gunung Argopuro, Jawa Timur, terkenal sebagai gunung dengan jalur pendakian terpanjang seJawa. Namun itu bukan alasan untuk menyerah. Berdelapan, yaitu Fathur, Dewo, Nisa, Acil, Dimas, Ajeng, Rafli, dan Sonia, mereka berusaha menamatkan medan demi medan untuk mencapai puncak-puncak Argopuro. Salah satunya, puncak yang disebut Rengganis.

Namun, bukan cuma hutan hijau, savanna luas, danau biru, ataupun kumpulan merak atau kijang liar yang menyihir delapan sekawan itu. Argopuro menyimpan pesona tersendiri, yaitu pesona yang ditinggalkan salah satu ningrat dari Majapahit yang konon berdiam dan murca di gunung tersebut, Dewi Rengganis.

Ketertarikan dan rasa penasaran yang berlebihan memang tidak baik. Gara-gara terlalu ingin tahu dan cukup menantang, satu dari delapan sekawan itu hilang. Suatu pagi, ia tak ditemukan oleh teman-temannya. Ketujuh kawan yang lain, dengan sisa semangat yang ada karena sebelumnya sudah tertimpa kejadian alam tak terduga, mati-matian mencarinya. Hingga ketika ditemukan, suatu pengakuan mengejutkan keluar dari mulutnya. Demikian pula pengakuan seorang lain, yang sama-sama mengagetkan.

----------------------------------------------------

Dasar penggemar jalan-jalan, secara naluriah biasanya tangan saya langsung gerak ngambil buku dengan cover atau judul yang berhubungan dengan jalan-jalan. Apalagi kalau tentang pendakian. Namun, semenjak mencuatnya film pendakian beberapa tahun lalu, novel-novel bertema sejenis pun jamak bermunculan. Dan harus diakui, nggak semua novel-novel itu cocok sama selera saya. Ada yang nggak cocok gegara bahasanya terlalu verbal atau terlalu jurnalis, ada yang isinya 'dangkal' (sori yaa), ada yang jalan-jalannya cuma tempelan tapi fokusnya malah soal lain, tapi mayoritas karena tema utama yang diangkat (ya 11-12 sama alasan sebelumnya sih). Atau saya aja yang terlalu pemilih ya? Tapi karena banyak 'cendawan di musim hujan' itulah, kudu pilih-pilih. Ya kali semua novel yang temanya jalan-jalan diembat ke kasir *langsung ngeluarin kalkulator.

Kok jadi curcol?

Pertama kali ngelihat cover dan judul novel ini, otak langsung mengirimkan sinyal tertarik. Alasannya jelas, ini novel tentang pendakian. Apalagi tujuannya salah satu gunung yang saya target puncaknya juga, Argopuro. Dan lagi, pengarangnya Azzura Dayana. Sejauh yang saya tahu, novel yang ditelurkan Azzura Dayana selalu mengangkat tema perjalanan: Tahta Mahameru, Ranu (meski di Ranu, cerita soal perjalanan nggak begitu jadi fokus dan nggak terlalu banyak, menurut saya - ini novel duet dengan Ifa Avianty), dan yang terakhir saya tahu, Rengganis ini. Berekspektasi bahwa Rengganis sama inspiratif-puitisnya dengan Tahta Mahameru, novel ini pun saya culik ke kasir.

Inti novel ini pendakian delapan orang ke Argopuro. Titik. Selesai. Sudah? Belum.

Seperti yang sudah disebutkan, konflik utamanya soal salah satu teman mereka yang tiba-tiba hilang ketika pendakian. Hilangnya teman ini berhubungan dengan mitos mistis yang ada di gunung Argopuro soal Dewi Rengganis. Memang, sedari awal penulis sudah ngasih tanda-tanda kalau kemistisan gunung ini suatu saat akan menghampiri kelompok pendaki itu secara langsung. Kemistisan Argopuro dan Dewi Rengganis jadi tema utama yang diangkat.

Secara catatan perjalanan, novel ini cukup lengkap. Medan yang berurutan dan rincian kesulitannya hingga penggambaran panorama-panorama cantik yang dilalui rasanya sudah genap disebutkan. Nggak cuma digambarkan, di novelnya ada penggambaran berupa ilustrasi beneran. Bukan foto, tapi sketsa hitam putih seperti di bawah ini. Buat saya, cukup membantu plus membangkitkan imajinasi. Sekarang, jarang banget kan ada novel yang dilengkapi ilustrasi.

 

Ceritanya sendiri menarik (atau karena buat saya semua cerita pendakian selalu menarik ya? Hehehe), tetapi karena terlalu 'bahasa reportasi', rasanya jadi lebih mirip baca catatan perjalanan dibandingkan baca novel. Di Rengganis, rasanya kalimat-kalimat mengalir kurang lancar. Mungkin karena bahasa yang reportatif, jadinya kaku. Penggambaran yang ditulis pun akhirnya turut reportatif dan cenderung pakai perumpamaan yang jamak dipakai. Akhirnya, perasaan saya sebagai pembaca pun kurang terbawa.

Tokoh yang banyak (delapan orang) sebenarnya nggak bikin saya terganggu. Apalagi penulis sepertinya berusaha mencirikan satu tokoh dengan satu sifat khusus. Misalnya Nisa yang penakut, Rafli yang tegap-kekar tapi cenderung grudak-gruduk, Dimas yang alim, Acil dan Dewo yang bijak dan dewasa, atau Sonia yang bisa 'ngelihat'. Namun, ciri khas yang dikenakan masih sifat yang tergolong umum. Memang, ada penekanan karakter tersebut di beberapa adegan, tapi kadang keumuman itu bikin bingung saat baca, sehingga saat pertama baca, buka halaman depan dulu buat ngecek tokoh supaya nggak kebalik-balik. Tapi, bukan masalah besar kok. Hanya saja, ada percakapan-percakapan yang rasanya agak janggal karena lebih ke percakapan sehari-hari (mungkin saya terlalu ngebandingin sama Tahta Mahameru yang tiap kalimat & percakapannya sarat makna kali ya).

Satu hal yang bikin alis saya terangkat adalah konfliknya. Hingga separuh buku, kok konfliknya belum kelihatan? Iya sih, pertanda-pertandanya ada. Tapi, konflik besarnya apa, belum ketebak, nggak yakin dengan lanjaran yang ditampilkan. Mungkin aja ini salah satu cara supaya pembaca sabar baca sampai akhir. Namun biasanya, 'bau-bau' konfliknya macam apa sudah tercium di sepertiga awal. Di novel Rengganis ini, konflik pertama baru ditemukan di halaman lanjut. Setelah konflik mini itu selesai, baru dilanjutkan konflik inti seperti yang dicantumkan di sinopsis belakang buku. Konflik inti memang bikin penasaran, "Kenapa kok gini?" dan di akhir memang ada penjelasan, "Ooh ternyata karena ini". Tapi... nggak tahu lah, kayaknya ada yang kurang. Berasa kayak, "Lho, gini aja?" Rasanya, masalah yang diangkat masih bisa digali lebih dalam lagi supaya lebih seru.

Kalau nyari novel pendakian yang cerita pendakiannya bukan cuma tempelan, Rengganis memenuhi syarat. Dan resensi ini sudut pandangnya subjektif ya, kalau orang lain yang baca, tentu aja pendapatnya bisa beda. So, happy reading! Selamat berkelana dalam imaji! 

----------------------------------------------------

(PS: Argopuro emang terkenal rada wingit. Tapi ketika nggak nantangin, tetep waspada, plus percaya sama Yang Di Atas, insyaAllah nggak papa, sama seperti gunung-gunung lain. PPS: sebenernya semua gunung juga punya cerita wingit tersendiri)
Reading Time:

Rabu, 10 Juli 2013

Anak Gunung Jatuh Cinta
Juli 10, 20130 Comments


Judul: Anak Gunung Jatuh Cinta
Penulis: Fransisca Desiana
Penerbit: Puspa Swara
Tahun terbit: 2007 (cetakan I)
Ukuran: 19 cm
Halaman: 112


Icha sama sekali nggak menyangka bisa bertemu orang seperti Kharlly. Kharlly yang akhirnya menjadi sahabatnya, menjadi kakak baginya, menjadi orang yang menyemangati saat sama-sama sedang diklat Pecinta Alam, pun menjadi orang yang pertama turun ke jurang saat Icha jatuh saat pendakian.

Kharlly pula yang membuat Icha mengenal Wildan, yang akhirnya menjadi kekasihnya. Meski Kharlly pula yang meminta Icha menjauhi Wildan karena merasa Icha berubah.

Tapi Icha memilih tak menggubris peringatan Kharlly. Icha hanya bisa terenyak ketika melihat dengan mata kepala sendiri Wildan memang sedang bersama wanita lain.

Icha makin terpukul saat sekembalinya dari rumah sakit, Kharlly yang selama ini menemaninya ternyata sudah meninggalkan kota itu, pindah dan memilih menghilang dari pandangan Icha. Kharlly menitipkan sebuah paket untuk Icha, berisi buku harian yang menguak masa lalu Kharlly yang kelam, yang membuatnya ingin selalu melindungi Icha, membuatnya terpaksa menasihati Icha agar menjauhi Wildan karena masa lalu mereka.

Tapi terlambat. Kharlly sudah terlanjut pergi, menghilang tanpa jejak. Meningggalkan pesan agar Icha tak mencarinya, karena suatu hari nanti ia sendiri yang akan datang menemui Icha

------------------------------------------------------------------


Novel teenlit ini sama seperti novel-novel teenlit lainnya, yang mengutamakan cerita remaja dan cinta. Hanya bedanya, latar belakang para tokohnya adalah pendaki. Namun untuk jalan cerita keseluruhan, hampir sama dengan novel bergenre sama. Setting sekolah masih ada, banyak. Setting gunung diselipkan sedikit-sedikit, namun tak menceritakan gunungnya, lebih fokus pada tokohnya.

Hal tentang gunung yang bisa ditemui di sini adalah adanya istilah-istilah yang akrab di telinga pendaki seperti bivak, survival, navigasi darat, dll. Di halaman terakhir, diselipkan definisi istilah-istilah tersebut untuk memudahkan para pembaca yang bukan anak PA.




Reading Time:

Sabtu, 01 Juni 2013

Kecanduan Jalan
Juni 01, 20131 Comments

Kecanduan? Mayoritas orang kecanduan rokok, kopi, atau cokelat. Tapi ini, kecanduan jalan-jalan? Memangnya makanan yang namanya ‘jalan-jalan’ itu mengandung depresan atau halusinogen?

Kalau mengandung depresan, kayaknya nggak ya. Soalnya, jalan-jalan malah bikin kerja syaraf makin aktif. Jalan kesana-kemari, potret sana potret sini, jajal kuliner dari pusat kota sampai ujung pelosok. Nah, kalau halusinogen, nggak tahu lagi. Kan katanya kalau lagi fly, orang itu bakal ngerasa senang. Hal yang sama berlaku pada jalan-jalan! Kalau lagi travelling, orang kan cenderung merasa senang, hehehe. #apasih

Aaaanyway, karena termasuk orang yang kecanduan jalan-jalan, hampir semua buku yang saya temui di toko dan bertema ‘jalan-jalan’ biasanya akan saya embat ke kasir. Hingga hari ini, total terkumpul tujuh buku bertema travelling. Lumayan buat tambah-tambah ilmu.



TRAVELER’S TALE (resensi ada di sini)
Buku ini bentuknya novel. Menceritakan perjalanan empat sahabat, Francis, Farah, Retno, dan Jusuf yang tinggal di empat negara berbeda (tapi keempatnya orang Indonesia). Setelah bertahun nggak pernah ketemu, eh, tiba-tiba aja Francis ngundang mereka berempat ke nikahannya. Keempatnya pun berniat ngumpul di Barcelona, tempat nikahan Francis. Tentu saja nggak cuma ke Barcelona doang dong! Sebelumnya, mereka juga mampir di negara-negara sekitar, backpacking. Dari empat benua berbeda, keempatnya menuju Barcelona dengan membawa pertanyaan dari kisah merah yang mereka pendam sejak zaman sekolah.

5 CM (resensi ada di sini)
Novel yang menceritakan lima sekawan yang menggapai puncak gunung tertinggi di Jawa. Lima sahabat yang merasa tumbuh dan ngumpul bareng orang-orang di lingkaran yang itu-itu doang menganggap mereka sudah terlalu lama berada di zona nyaman. Akhirnya, diputuskan mereka berlima nggak ketemuan selama tiga bulan. Pada hari mereka bertemu, mereka bersua kembali di stasiun kereta yang akan membawa mereka ke Mahameru.

BAIT-BAIT SUCI GUNUNG RINJANI (resensinya saya taruh di sini)
Novel tentang gunung kedua yang saya temui (novel pertama adalah 5 Cm). Bab-bab awal menceritakan perjalanan Fajar dan Bambang treking melintasi alam gunung Rinjani yang memesona. Perjalanan makin berwarna saat mereka bertemu dengan rombongan pendaki lain, yang kelak akan menjadi teman mereka. Setelah pulang ke Jakarta, orang-orang ini pun terpisah oleh kesibukan masing-masing. Mereka baru bertemu saat salah seorang dinyatakan hilang (kabur dari rumah) dan akhirnya meninggal saat mendaki Rinjani. Fajar, yang ingin menapak tilas kematian teman seperjalanannya, memutuskan pergi ke Lombok. Siapa sangka di sana dia malah mendapat kejutan hebat?

NAKED TRAVELER
Sebetulnya buku berisi tips-tips perjalanan dan pengalaman Trinity keliling dunia ini sudah ada bervolume-volume, mulai dari warna orange, hijau, dan warna-warna lain (bilang aja lupa, Non!). Namun apa daya, waktu itu saya hanya bisa memeluk satu buku berwarna biru, sedang buku-buku berwarna lain menatap memelas, “Kenapa gue nggak ikut diambil?”. Hiks.
Buku ini sangat menarik dinikmati (dan dipelajari, hehehe). Meskipun isinya tips ataupun pengalaman travelling, tapi isinya nggak bikin bosan. Bukan tipe buku di mana banyak poin-poin kayak rangkuman. Pengalaman jalan pun, ditata apik dengan gaya bahasa yang kadang serius kadang lucu. Fun!

A MEMORABLE JOURNEY (resensi ada di sini)
Buku ini isinya gado-gado. Mulai dari pengalaman wisata ke patung Buddha di Hongkong, catatan-catatan perjalanan pendaki, hingga cerita rohani di dekat Ka’bah. 25 kilasan perjalanan tercatat di buku ini. Menyampaikan pesan pada para penjelajah agar tak sekedar menikmati pesona, namun juga mempelajari hal baru lewat perjalanan.

TAHTA MAHAMERU (resensi dipost di sini)
Faras bingung. Bingung menjawab, bingung merespon. Ikhsan menanyakan hal yang tak pernah terpikirkan oleh Faras, “Apa aku harus membunuh ayahku?”. Ya Allah, bagaimana gadis pucuk gunung yang lembut macam Faras bisa berteman dengan pendaki sekeras Ikhsan?
Lama tak ada kabar, Faras makin khawatir. Ditelusurinya jejak perjalanan Ikhsan satu per satu lewat email, berusaha mencari tahu alasan Ikhsan menghilang tahun-tahun belakangan ini. Penelusuran itu membuatnya makin paham kenapa Ikhsan menanyakan hal-hal tak lazim. Dan penelusuran itu, tanpa disadari, memiliki banyak hikmah untuk dipetik.

TRAVEL IN LOVE (resensi di postingan ini)
Dua sahabat. Tiga cinta. Satu perjalanan.
Paras dan Jatayu (cewek, bukan cowok) sama-sama terluka. Paras tersiksa dengan Kanta yang tak pernah berterus terang, sedang hati Jatayu patah karena Kelana meninggal saat mendaki. Memutuskan untuk melupakan cerita lama, sepasang sahabat ini melakukan perjalanan darat 30 hari: Bandung-Jepara-Karimun Jawa-Semarang-Jogja-Solo-Bali-Lombok.
Tapi apa jadinya jika dalam perjalanan mereka malah bertemu dengan sosok dari masa lalu, Kanta? Apa jadinya pula jika dalam perjalanan, mereka ditakdirkan berjumpa dengan harapan masa depan, Sean? Apa jadinya bila empat anak manusia ini bertabrakan di satu titik yang sama, membuat mereka tanpa disadari menyakiti satu sama lain?
Tapi, bukankah setiap cerita memang memiliki klimaksnya sendiri? Dan bukankah, setiap cerita memiliki akhir?

RENGGANIS (resensi ada di postingan ini)



















Rengganis, salah satu puncak gunung Argopuro, menjadi tujuan perjalanan delapan sekawan kali ini. Mereka harus mampu menghadapi medan alam dengan perangai yang berbeda-beda. Ditambah lagi di balik keindahannya, Argopuro memiliki trek pendakian terpanjang seJawa, plus satu kisah mistis tentang sang putri pemilik puncak: Dewi Rengganis. Konflik pun memuncak ketika salah seorang dari mereka menghilang. Dengan kondisi serba terbatas yang menimpa mereka, apa yang dapat dilakukan?


--------------------------------------------------------

Sebenarnya, ada buku-buku lain yang pernah saya baca. Namun sedihnya, ketiga buku tersebut bukan milik saya alias pinjam teman. Ketiga buku ini adalah:

THE JOURNEYS


Buku ini merupakan kumpulan catatan perjalanan para backpacker keliling dunia. Selebihnya, saya sudah lupa tentang buku ini lebih detail (maaf ^_^). Yang saya ingat, kalau mau cari destinasi perjalanan khususnya ke luar negeri, bisa kok tengok buku ini :)

99 CAHAYA DI LANGIT EROPA
Ternyata Islam di Eropa memiliki jejaknya sendiri. Mulai dari kisah Champ Elysees yang ternyata lurus dengan Makkah hingga sejarah terciptanya croissant yang berhubungan dengan penaklukan Austria oleh Turki. Melalui buku ini, penulis mengajak pembaca untuk menyelami kisah-kisah yang berhubungan dengan Islam di Eropa. Menarik. Buku travelling yang lain dari yang lain, menyorot Eropa dan travelling dari sisi berbeda.

JILBAB TRAVELER 

Semua perjalanan keliling dunia, atau keliling negara sendiri, berawal dari mimpi. Asma Nadia mengawalinya dengan memandangi magnet-magnet kulkas tetangga yang berasal dari seluruh penjuru dunia, sedang penulis lain memulainya dengan menggambar peta Australia, yang ingin dikunjunginya, di tembok kamarnya semasa masih SD. Jadi, tidak ada salahnya berani bermimpi karena mimpi toh setengah perwujudan dari keinginan seseorang.
Buku ini bercerita tentang perjalanan keliling dunia, hampir sama topiknya dengan buku travelling lain. Bedanya, kisah-kisah ini dituturkan oleh para muslimah. Cuma itu doang bedanya? Ya nggak dong. Buku ini membahas problematika muslimah di luar negeri sekaligus memberi solusinya. Mau makan? Hm... halal nggak ya? Mau shalat? Shalat di mana, masjid aja nggak ada! Atau... lho lho lho, kok gue dilihatin satpam? Lho, diikutin sampai parkiran, lagi! Masa gara-gara kain selembar di kepala gue, gue dikira mau berbuat yang enggak-enggak? Kendala yang sering ditemui oleh para muslimah, khususnya yang berjilbab mengingat ada orang-orang yang Islamphobia, dikupas di sini.
Plus, di dalam buku juga diberikan percakapan-percakapan sederhana traveller dalam beberapa bahasa. Masih plus lagi, tips-tips travelling mulai barang bawaan, lisensi, sampai tips menghindari kriminalitas. Alhamdulillah... Jadi, muslimah yang berjilbab nggak usah pake mengidap travellingkeluarnegeriophobia, hehehe.

Sweet Edelweiss (resensi ikut di sini)

Arin merupakan tipe gadis yang nggak banyak tingkah, tipe gadis-gadis pada umumnya. Tapi gara-gara pacarnya mutusin dia dan jadian sama anak Pecinta Alam, Arin jadi kepingin naik gunung juga, hanya karena pengen membuktikan ke mantannya, “Gue juga bisa kayak pacar lo yang baru”.
Kebetulan, Anna, kakak Arin, memiliki seorang teman Pecinta Alam bernama Keenan, yang ditaksir Anna. Konflik dimulai saat Keenan malah menyukai Arin, bukannya Anna. Anna sakit hati dan berniat membalas perbuatan adiknya.
Lalu di mana perjalanannya? Dalam novel ini, ada cerita saat Arin pertama kali mendaki gunung Gede dengan Keenan (pendakian pertamanya) dan petualangan Keenan dkk saat ekspedisi ke Cartensz. Lumayan lengkap :)

Gambar novel 'Sweet Edelweis' dicopas dari

--------------------------------------------------------

Selain buku-buku di atas, buku travelling lain yang saya tahu adalah buku Haram Keliling Dunia. Sayangnya, saya belum sempat beli. Sejauh ini sih, baru buku-buku itu aja yang saya tahu. Kalau ada yang tahu buku lainnya, boleh dong kasih info.

Oh iya, ada yang penasaran nggak, kenapa saya bikin postingan tentang kumpulan buku-buku travelling? (Narsis mode on.)

Alasannya nggak lain nggak bukan karena saya pernah ribet cari-cari buku travelling, mulai yang tips-tips travelling sampai novel tentang pendakian. Googling sana googling sini, mengumpulkan satu demi satu judul, mencari sinopsisnya. Persis kayak mencari satu demi satu keping puzzle yang hilang. Karena pernah mengalami hal seperti itu, tercetuslah ide bikin postingan ini supaya nggak ada orang lain yang menderita seperti saya. Hik hik. (Woi, WOOOOIII, ini bukan acara reality show!)

Singkatnya, saya rangkum jadi:

Buku ‘manual’ travelling:
Naked Traveler, A Memorable Journey, The Journeys, 99 Cahaya di Langit Eropa, Jilbab Traveler.

Novel travelling:
Traveler’s Tale, Travel In Love, 5 Cm, Sweet Edelweiss, Bait-Bait Suci Gunung Rinjani, Tahta Mahameru (4 judul terakhir terkait novel pendakian).

Kalau novel tentang pendakian, sebenarnya ada satu lagi, berjudul Anak Gunung Jatuh Cinta. Tapi, saya nggak memasukkannya ke dalam kategori travelling karena cerita naik gunungnya nggak seberapa banyak, lebih banyak ke cerita cintanya. Resensinya bisa dilihat di sini. Nah, kalau tentang keliling dunia, masih ada lagi satu buku berjudul Geography of Bliss tulisan Eric Weiner (sinopsis di situ dan juga belum saya post). Namun, buku yang bercerita tentang perjalanan seorang jurnalis keliling dunia untuk melihat bukti Teori Kebahagiaan ini lebih mentitikberatkan pada hubungan budaya dan kehidupan dengan kebahagiaan.

So, um, happy travelling?

(and reading)

Reading Time:
Bait-Bait Suci Gunung Rinjani
Juni 01, 20130 Comments



Judul: Bait-Bait Suci Gunung Rinjani
Penulis: Khaerul Sidiq
Penerbit: Dian Rakyat
Tahun terbit: 2009 (cetakan pertama)
Tebal: 310 halaman

Perjalanan memang tak cuma untuk menikmati alam, namun juga bisa menjadi ajang mencari teman. Hal itulah yang benar-benar terjadi pada Fajar dan Bambang. Mereka yang awalnya hanya berdua mendaki Rinjani, bertemu dengan kelompok pendaki lain: Ria, Anis, Robi, dan Aldo. Kebersamaan yang mereka bawa dalam perjalanan, menggoreskan kesan. Usai pendakian, keenamnya kembali dengan hidupnya masing-masing. Yang lain kuliah di universitas, sedang Fajar melanjutkan pendidikannya di pesantren.

Hanya sampai di situ?

Tidak. Hidup Fajar tidak bisa disebut lempeng-lempeng saja. Tokoh sentral ini banyak mengalami kejadian dalam hidupnya. Mulai dari mengais rezeki dengan mengamen di bus, menjadi saksi meninggalnya seorang pengamen kecil, hingga proses taaruf-nya dengan Imel yang kandas.

Semuanya mulai terlihat jelas saat Fajar kembali bertemu dengan Anis dan Robi yang sudah menikah. Ternyata Ria sudah meninggal! Padahal, baru beberapa bulan yang lalu Fajar bertemu Ria yang sedang caving. Saat itu, Ria bercerita bahwa dia kabur dari rumah. Sesaat kemudian, Ria dijemput karena ibunya sedang sakaratul maut dan sedang menunggunya. Sejak saat itu, Fajar tidak pernah bertemu Ria.

Berniat menapaktilasi Ria yang meninggal dalam pendakian ke Rinjani, Fajar mengiyakan ajakan Anis dan Robi. Betapa terkejutnya Fajar, mendapati Ria masih hidup. Malahan, keduanya bertemu saat sedang sama-sama berdiri di pelaminan, sebagai sepasang suami istri. Kok bisa?

-------------------------------------------------------------------------

Novel bernafaskan Islam ini overall menarik. Mulai dari cover hingga isinya (apalagi kalau isinya tentang pendakian, hehehe). Catatan perjalanan pendakian Rinjani cukup lengkap untuk ukuran novel. Isinya pun tidak hanya berfokus pada satu tema. Namun juga tentang cinta dan hidup pengamen jalanan. Untuk yang disebut terakhir memang cukup menjadi fokus. Apalagi, penulis adalah salah satu dari mereka. Salut bukan, untuk sebuah karya yang —disebut di sampulnya— lahir dari jalanan?

Namun, masih terdapat beberapa ejaan dan penggunaan tanda baca yang kurang tepat. Pun, dalam gaya bahasa masih terasa kaku meski diselipkan percakapan-percakapan gaul. Dalam narasi masih ada kalimat-kalimat yang mengganjal, yang sebenarnya bisa diperhalus agar emosi pembaca ikut larut. Secara personal, ada juga kalimat yang rasanya agak kasar.

Dari segi isi, cukup nano-nano rasanya. Seperti saya bilang di atas, temanya macam-macam. Jadi berasa ada beberapa cerita di satu novel. Mulai dari pendakian, cerita ngamen, junior yang meninggal misterius, dll. Meski ada sedikiit benang merah di antara cerita-cerita ini, tapi saya ngerasa justru ini yang bikin cerita detached. Macam, terlalu banyak isi yang bikin intinya kurang fokus.

Tapi, lepas dari itu semua, jempol untuk semangat penulis!
Reading Time:
A Memorable Journey
Juni 01, 20130 Comments


Judul: A Memorable Journey
Penerbit: Dar Insyirah
Tahun terbit: 2012(cetakan pertama)
Tebal: 200 halaman

Buku ini berisi 25 kumpulan catatan perjalanan para pemenang lomba yang digelar oleh Hamasah Komunitas pada 2011 lalu. Hampir sama dengan buku-buku travelling lain, buku ini juga menceritakan kisah-kisah berkesan (dan berhikmah) saat sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat, mulai dari pendakian naik-naik-ke-puncak-gunung hingga pengalaman rohani di Makkah, mulai dari penjelajahan di negeri Zamrud Khatulistiwa hingga ke negara asing.

Judul-judul catatan perjalanan dalam buku ini:
  • Perjalanan Umrah yang Berkesan - Syifa Enwa
  • Unforgettable Moment in Tongging - Nurlaili Sembiring
  • Da'il Authaana Waghtarib - Mursalim
  • Semeru dan Sebuah Asa - Shabrina NH
  • Jogja, I'm in Love - Eka Nur Susanti
  • Ombak yang Tak Bersahabat - Azma Zarqaa
  • Orang Tua: Do'a Masa Depan - Riyadi Marshall
  • Cikuray, Maaf Tak Kuinjakkan Kaki di Puncakmu - Irwan Sanja
  • Mahameru Love Never The End - Avisa Guritna
  • Dieng, Percikan Surga di Tanah Tua Jawa - Bardatin Lutfi Aifa
  • Menjalin Persaudaraan di Lahat - Saepullah
  • Catatan Pelangi Tanah Bandung - Endang SSN
  • Wisata ke Patung Buddha (Giant Buddha) - Nyi Penengah  Dewanti
  • Satu Hari Menjelajah Tanah Karo - Nenny Makmun
  • Menjelajah Kebun Raksasa - Himmah Mahmudah
  • Perjalanan Itu Berakhir (Guntung) - Putra Afriansyah
  • Ngebolang ke Masjid Agung Jawa Tengah - Nuurus Saadah
  • Untuk Kedua Kalinya - Srimulyani
  • Indahnya Perjalanan ke Serambi Mekah - Rasmita Dila
  • Selusin Tahun Melancong di Tiga Negara Macan Asia - Okti Li
  • Makassarku, Kemenanganku - Estianna Khoirunnisa
  • Sebuah Perjalanan - Fransiska S Manginsela
  • Tiga Catatan Satu Perjalanan - Eneng Susanti
  • Baduy, Suku di Negeriku Tercinta - Encep Abdullah
  • Lebak Harjo, Keajaiban yang Ditemukan - Azzam Boo

Reading Time:

Sabtu, 26 Januari 2013

5 Cm - Mulai dari Novel, Komik, Hingga Film
Januari 26, 20130 Comments

Ada yang sudah nonton filmnya? Gimana tanggapannya? Ada yang sudah baca komiknya? Atau, ada yang sudah khatam novelnya?

gambar diambil dari www.google.com

Film yang premiere pada 12-12-2012 ini dikatakan sukses karena dalam seminggu pertama, penontonnya sudah membludak. Nggak heran sih, soalnya settingnya emang keren. Berlokasi langsung di gunung Semeru, film ini menayangkan keeksotisan dan keindahan alam Semeru. Mulai dari Ranu Pani, Ranu Kumbolo, Oro-Oro Ombo, Kalimati, Arcapada, sampai puncak tertinggi Jawa: Mahameru, 3676 meter dpl (pernah saya post di http://hijaubiru-hijaubiru.blogspot.com/2011_10_01_archive.html).

Kalau kata beberapa orang nih, biasanya lihat film itu lebih nggak enak daripada baca novelnya. Apa pasal? Karena dalam novel, kita bisa berimajinasi. Kita bisa membayangkan wajah, gestur, dan tingkah tokoh-tokoh sesuai dengan yang kita tangkap dan inginkan. Setting-nya pun, sesuai imajinasi kita. Kalau di film sesuai ekspektasi a.k.a seindah yang di novel, sih, nggak apa ya. Kalau nggak? Kecewa dong penontooon!

gambar diambil dari www.google.com

Terus, film 5 Cm ini gimana? Sesuai ekspektasikah?

Secara keseluruhan, film ini sama dengan novelnya. Mulai dari kejadian, setting, sampai percakapan pun ada yang persis plek seperti di novel. Hanya saja, memang ada beberapa hal yang nggak ada. Seperti kejadian Finding Ian yang diceritakan lengkap di novel, di film hanya dibicarakan di mobil. Atau obrolan-obrolan random lima Power Rangers ini, juga nggak ditampilkan di film (kalau ditampilin, mungkin durasi filmnya bisa-bisa lebih panjang dua kali lipat, mengingat banyaknya obrolan random-nya). Hal besar yang nggak ada adalah nggak diceritakannya mas Gembul (sopir angkot di Tumpang) dan Deniek dkk. Nggak ada adegan kenalan dengan Deniek, Deniek nyeritain temannya yang meninggal, ataupun ketemu Adrian di puncak.

Oh iya, ada lagi sih satu perbedaannya. Kalau di novel kan diceritain kalau Riani nikah sama Zafran, Genta sama Citra (sobat kerjanya Riani), Deniek sama Arinda, dan Ian sama bunda Happy, di film beda. Riani tetap sama Zafran, Ian sama Happy (di film, yang jadi istrinya Ian Happy Salma beneran!). Namun Genta dan Arinda masih sendiri. Kalau di film, naga-naganya sih Genta nanti tertarik sama Arinda.

Overall, lumayan miriplah sama novelnya. Oh iya, yang penasaran gimana Genta ‘nembak’ Riani (kan di novel cuma dinarasikan aja tuh, nggak ada percakapannya), di film ini ada adegan tembak-tembakannya. Jadi pembaca sudah nggak penasaran lagi, “Gimana sih Genta bilangnya ke Riani? Apa langsung bilang ‘I love you, Ni’, atau Genta mengungkapkan dengan bahasa puisi, atau Genta nyebur dulu basah-basahan di Ranu Kumbolo terus dandan ala pesut ancol kayak Ian, makanya Riani lebih milih Kahlil Zafran daripada ‘Si Sempurna’, Genta?”. Hehehe.

Personally, saya lebih suka novel daripada filmnya. Sorry to say, tapi yang bikin filmnya meledak adalah karena setting lokasinya di Semeru. Inti ceritanya masih berasa mirip dengan film-film lain bertema cinta dan persahabatan. Bedanya cuma ini dibalut pendakian, yang notabene konsep yang lumayan baru dan fresh. Tapi selain itu, yang lain biasa aja. Saya masih tetap agak aneh saat ada kata-kata atau adegan, yang beberapa sebenernya memang ada di novel, tapi difilmkan juga. Terlalu... dramatisasi, mungkin? Ya sama aja kayak film percintaan/persahabatan lain lah. Ada adegan yang kayaknya sweet atau melankolis banget, tapi sebenernya rada cringe

Menurut saya sih emang ini poin lebihnya novel dibanding film: bisa lebih bebas eksplor dengan meminimalisasi cringe itu tadi, seaneh apapun adegannya. Dan, durasi film kan emang pendek ya, jadi kalau diisi dengan hal yang 'biasa', jadinya jelek. Film butuh sesuatu biar 'nendang'. Sayangnya, satu-satunya hal yang menurut saya 'nendang' banget di film 5 Cm ini adalah lagu dan shot lanskap Semeru, bukan alur ceritanya. 

Ada beberapa detail yang agak mengganggu juga. Antara lain:
- Jeans
ada beberapa dari mereka yang mendaki pakai celana jeans. Padahal, para pendaki tahu bahwa jeans adalah salah satu bawahan paling dihindari kalau hiking karena udahlah berat kalau basah, susah kering, juga kalah ringan dibanding celana kain biasa. Jadi menuh-menuhin carrier dan bikin berat yang nggak perlu.
- Minta air ke pendaki lain
Maaf, ini manajemen air & pendakiannya gimana ya? Bisa-bisanya kehabisan air padahal di Ranu Kumbolo ada danau air tawar luas banget? Bukannya nggak boleh minta. Pendaki mana sih yang bakal nolak dimintain tolong, apalagi kalo ada pendaki lain emang kepepet? Tapi ya gitu, manage you and your team first, dude.
- Mendaki nenteng barang
Jaket pink Riani emang cantik, tapi lebih baik kalau itu jaket nggak ditenteng sepanjang pendakian. Lagian kenapa harus ditenteng kalau bisa dimasukin carrier atau diikat di pinggang, misalnya. Ini bukan soal preferensi dan kenyamanan aja, tapi juga tentang keamanan.
Ini lebih ke pilihan personal, sih. Saya emang termasuk orang yang semua barang sebisa mungkin masuk carrier sehingga tangan bisa bebas. Karena, ya naudzubillahi min dzalik, kalau misal ada apa-apa, tangan bisa bebas meraih buat jadi penyangga. Misalnya, kepeleset atau pijakan kaki nggak sterk, maka tangan yang nggak memegang apa-apa bisa nyaut akar pohon buat pegangan. Satu-satunya barang yang saya setujui dipegang tangan selama pendakian cuma trek pole. Itu pun kalau butuh banget. 

Kalau film 5 Cm  agak sama dengan novelnya, agak beda lagi dengan komiknya. Oh ya, 5 Cm ada komiknya? Ada dong! Tapi nggak tahu keluaran tahun berapa. 2012 kemarin saya ngider-ngider di toko buku online entah kenapa nggak nemu-nemu juga.

Balik, balik. Apa komiknya mirip dengan novelnya?

gambar diambil dari www.google.com

Beberapa peristiwa inti masih ada. Namun karena ini komik, banyak buangeet peristiwa yang dipotong. Jadinya, baca komik kayak baca intinya doang: lima Power Rangers terpisah, bertemu, pendakian, selesai. Pendakiannya nggak seseru seperti yang di film maupun novel. Seingat saya, nggak ada adegan Ian kejedug batu. Cuma ada gambar kelima anak manusia ini berjuang begitu keras demi mencapai puncak. Buat orang yang sudah baca novelnya, komik ini rasanya kurang greget.
Reading Time:

Minggu, 20 Januari 2013

Tahta Mahameru
Januari 20, 20130 Comments
Judul : Tahta Mahameru
Penulis: Azzura Dayana
Penerbit : Republika
Tahun terbit: Maret 2012
Tebal :380 halaman

Buat saya, dari judul maupun cover-nya, novel ini catchy banget.

Novel yang menjadi novel terbaik kedua dalam lomba novel Republika 2011 ini nggak sengaja saya temukan ketika saya lagi ngubek-ngubek toko buku demi mencari sebuah buku agenda yang pas di hati. Bukan cuma buku agenda yang saya temukan, tapi juga lima novel yang semuanya bagus-bagus. Namun karena saya sadar dompet saya belum begitu tebal, yang berhasil saya gondol cuma buku agenda dan novel karya Azzura Dayana ini.

Bermula dari desa tertinggi di Jawa, Ranu Pani, novel ini menceritakan perjalanan tiga manusia (Faras, Mareta, dan Ikhsan) dengan karakter yang amat berbeda.

Faras, gadis lulusan SMA, pengajar di SDN Ranu Pani yang juga tumbuh di desa itu. Perangainya lembut, sopan, sabar, dan cerdas. Tipikal tokoh protagonis sejati. Ada pula Ikhsan, pendaki slengekan, sinis, dan suka berbuat semaunya. Baginya, persahabatan  tidak ada artinya. Hubungan sosial tidak berarti apa-apa. Ambisi terbesarnya cuma satu: membunuh ayahnya, orang yang ia anggap sangat bertanggung jawab atas takdir buruk yang menimpanya. Sedangkan Mareta, setipe dengan Ikhsan, namun tidak se-keterlaluan seperti Ikhsan.

Cerita berawal ketika Ikhsan dan Fikri mencari wisma untuk menginap sebelum mendaki Semeru. Mereka bertemu Faras, yang dengan senang hati menunjukkan rumah penduduk. Pertemuan Faras dengan Ikhsan, pendaki yang slengekan, sinis, dan suka berbuat semaunya, mengubah jalan hidupnya.

Eit, jangan dulu mikir bahwa nanti jadinya Faras suka Ikhsan, atau Ikhsan naksir Faras, tapi cinta mereka terhalang problema sebesar gunung Semeru. Bukaaaan! Sama sekali bukan! 

Ikhsan yang sekuler dalam urusan agama, pun apatis dalam memandang persahabatan, selama tiga tahun berturut-turut terus menghujani Faras dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, "Kamu bisa jelaskan padaku sebelas alasan kenapa aku harus shalat?", "Kamu tahu 'Tahta Mahameru'?" dan sebagainya. Pertanyaan terakhir Ikhsan cukup membuat dada Faras bergolak. Ikhsan bertanya apakah ia harus membunuh ayahnya.

Tahun berselang, Faras tak pernah bertemu Ikhsan. Ia hanya menerima foto-foto jepretan Ikhsan tentang perjalanannya traveling Indonesia. Namun, teringat pertanyaan terakhir Ikhsan, Faras memutuskan mencari Ikhsan, agar Ikhsan terhindar dari lumpur hitam yang menjeratnya.

Pertemuan Faras dengan Mareta di Borobudur tidak disengaja. Kedua wanita yang tak saling mengenal ini terlibat pembicaraan, kemudian menjadi kawan seperjalanan. Mereka menuju Sulawesi bersama-sama. Faras dengan misinya mencari Ikhsan (yang menurut email terakhirnya berada di Sulawesi) dan Mareta dengan niat traveling-nya.

Selama tahun-tahun tidak ada kontak dengan Faras, Ikhsan ternyata mengalami masa kelam. Ia yang ingin membalas dendam pada istri tua ayahnya karena dianggapnya sudah membunuh ibu kandungnya, malah masuk penjara. Di dalam penjara, ia menemukan cahaya.

Cerita diakhiri dengan Ikhsan yang kembali bertemu Faras di Ranu Pani (padahal dicarinya di Sulawesi, boo!). Mereka mendaki Semeru bersama ayah Faras. Di puncaklah Faras menjawab pertanyaan Ikhsan yang dulu membuatnya bingung : "Jika Mahameru adalah puncak para dewa, apakah Allah punya tempat di sana?"

Terus, apa spesialnya novel ini?

Memang pendeknya, novel ini mengisahkan perjalanan Faras mencari Ikhsan. Tapi, nggak sesimpel itu. Tentu aja ada nilai-nilai kemanusiaan bahkan agama yang tersurat. Banyak juga quote bagus di sini. Buat yang doyan traveling juga, lumayanlah referensi mengenai Makassar seperti kapal Pinisi, adatnya, pulau Selayar, dan semacamnya. Soal budaya dan perjalanan inilah yang bikin novel ini jadi favorit saya.

Salah satu hal yang bikin saya suka di sini adalah plot twist-nya. Clue-nya ada di si pengirim email perjalanan ke Faras. Kejutan ini dirangkai secara rapi sehingga kalau kita putar balik ke bab-bab selanjutnya maka baru nyadar: oooh ternyata iniii pertandanya. 

Namun, seperti novel-novel lainnya, Tahta Mahameru juga punya kekurangan. Beberapa masalah dan dialog terkesan agak kaku dan too good/too dramatic to be true. Beberapa hal yang bikin saya nggak sreg adalah cerita Ikhsan di penjara yang bertemu Yusuf. Yusuf ini kisahnya seperti Nabi Yusuf a.s. yang dibui karena difitnah menggoda atasannya. Kebetulan ini rasanya agak gimanaa gitu. Pun adegan balas dendam Ikhsan ke istri tua ayahnya. Dramatis, sih. Tapi kesannya terlalu... hm... sinetron, mungkin? Jadi agak polar gitu sama adegan-adegan lain yang rasanya ngalir lancar, alamiah, dan real. 

Terlepas dari hal-hal di atas, topik traveling, budaya, serta perjalanan mencari jawaban dan mengenal jati diri tetap jadi topik yang mendominasi. Dan, satu hal lagi, perjalanan mencari jawaban/jati diri di sini bukan cuma tempelan dan nggak cuma menyentuh permukaan kemudian dibikin puitis dan diromantisasi berlebihan (seperti novel perjalanan yang jamak di masa ini, ehm). Jadinya, lebih 'nendang' gitu pencarian jawaban/jati dirinya.

Jadi, hiking, travelling, agama, quote kehidupan, semuanya dirangkum jadi satu deh di sini!


----------------------

Desember 2013 lalu saya sempat ke salah satu toko buku gede. Di sana saya nemuin buku ini judulnya sudah diganti menjadi 'Altitude 3676'. Covernya pun diganti jadi pemandangan matahari terbit di jalur pendakian ke puncak Semeru.
Reading Time:

Rabu, 09 Maret 2011

5Cm
Maret 09, 2011 2 Comments
Akhirnyaaa, setelah berbulan-bulan berburu ke toko-toko buku, sampe ngidam dan kebawa mimpi, akhirnyaaa, saya menemukan novel yang sudah saya incar selama ini : 5Cm-nya Donny Dhirgantoro! Yay! Hore! *dance*

Buku yang bercerita tentang perjalanan enam anak manusia ke Mahameru ini bener-bener memikat hati saya sejak pertam saya baca resensinya. Berawal dari googling dengan keyword 'novel pendakian' awal-awal bergabung dengan organisasi PA dulu, terus ada novel 5Cm, baca resensi, jatuh hati, berburu sampe frustasi (karena gak nemu-nemu), dan akhirnyaa saya menemukan novel ini juga! *dance*
.......... Rodok lebay, maaf :P
Cerita ini berawal dari segerombolan 'Power Rangers' yaitu Genta (cenderung sebagai leader), Ian (gajah bledug ungu dari Dufan), Arial (orang yang lived by the rule), Zafran (sang 'penyair'), dan Riani (satu-satunya cucu Hawa di gerombolan ini). Berawal dari 5 orang yang bareng terus dari SMA, kuliah, dan mendekati kerja, lalu karena mereka bosan berada dalam lingkaran yang itu-itu aja, maka mereka memutuskan berpisah 3 bulan dari gerombolan ini. Setelah 3 bulan, mereka berjanji akan bertemu di suatu tempat yang amaaat spesial!
3 bulan berlalu. Kelima orang sudah memiliki hidupnya masing-masing. Berbagai prestasi hidup sudah ditempuh. Genta dan Riani berhasil dalam karirnya, Ian berhasil lulus, Arial berhasil dapet cewek, dan Zafran .... entahlah, nggak tahu.
Pada bulan Agustus, mereka bertemu di Stasiun Senen dan memulai perjalanan ke ..... Mahameru! (wik! Pengen, pengen, pengen!)
yang bikin imajinasi saya melayang-layang adalah saat membaca bab-bab tentang perjalanan mereka. Mulai dari senja di Cirebon, dini hari di Stasiun Lempuyangan Jogjakarta, bagaimana kereta api Matarmaja melewati hutan jati, semua orang yang dibikin mangap di Ranu Pane, Ranu Kumbolo, dan bagaimana pemandangan silih berganti di sepanjang perjalanan, dan keindahan panorama Indonesia lainnya yang bikin speechless dan bikin saya pengen ke Mahameru.
Yang paling 'ngena' adalah saat mereka berbicara tentang kehidupan. Bagaimana manusia di kota hidup di gua kesenangan yang semu, bagaimana ada orang yang berani mencari tantangan dengan keluar dari gua, bagaimana ibu tua dari Jogja masih berjualan pada pagi dini hari dan dikit yang beli jualannya dan dia berjualan tanpa alas kaki, bagaimana mas Suhartono Gembul dengan logat medoknya bercerita tentang suporter bola Indonesia, dan yang paling ngena adalah saat Ian nggak sadar dan Arial nggak kuat.
Inget kejadian yang menimpa Arial, inget kejadian yang pernah saya alami waktu pendakian perdana ke Penanggungan. Kata-kata Arial dan Genta mirip banget. Berikut (eh, tapi nggak mirip-mirip banget yah, intinya aja sih yang sama. Maaf, lagi gak lihat bukunya):
Arial : "Gue... turun aja ya. Nggak kuat."
Genta : "Enggak!!! Apa-apaan lo!!!!"
Mereka udah naik jauh banget itu. Dan Arial mau turun ke camp di Arcopodo gara-gara nggak kuat. Mirip banget sama kejadian nyata, di mana kalo ada salah satu pendaki dari suatu rombongan yang nggak kuat, maka yang lain akan menyemangati. Di alam, siapa pun bisa jadi saudara. Yang nggak kenal aja kalo ketemu di hutan udah serasa rekan sendiri (soalnya di hutan nggak bisa ketemu homo sapiens lain), apalagi yang udah kenal kayak keluarga sendiri.
Saling menyemangati, saling membantu dan menolong walau nggak kenal, dan saling pengertian dan bisa merasakan yang orang lain rasakan. Semoga semua itu tetap ada di diri para pecinta alam. Karena, kalau individual, yah, orang kan nggak bisa menhadapi alam sendirian.

Banyak yang bilang buku ini bagus (yah, emang bagus). Mayoritas orang akan bilang mereka kagum dengan cara penulis a.k.a mas Dhonny Dirgantoro membangkitkan semangat untuk percaya bahwa setiap orang bisa melakukan apa yang ia mau asal ia punya niat kuat.
"Setiap kamu punya mimpi atau keinginan atau cita-cita, kamu taruh di sini, di depan kening kamu... jangan menempel. Biarkan...."
"Dia..."
"Menggantung..."
"Mengambang..."
"5 centimeter... di depan kening kamu." 
Tapi selain itu, yang bikin saya lebih kagum adalah bagaimana penulis novel ini bisa begitu berani. Berani?
Yap, kalau diperhatikan, banyak banget kan obrolan ngalor-ngidul ala anak muda yang temanya loncat-loncat di novel ini. Katakanlah saat ngomongin filsafat, trus tebak-tebakan garing. Beda sama novel kebanyakan, yang, katakanlah temanya cinta-cintaan. Segala percakapan, gerak-gerik pelaku, pasti semuanya masih mengarah ke tema yang diangkat. Nah, inilah yang saya suka! Penulis bisa menyisipkan pesan-pesan dalam percakapan ngalor ngidul tadi. Sekaligus, menyisipkan adegan kosong seperti tebak-tebakan garing, yang pada kenyataannya memang sering terjadi di percakapan anak muda.

Aaanyway, selain novel, 5Cm juga udah dibuat versi komiknya sekitar 2011 yang lalu. Selain itu, pada 12.12.12 nanti, film 5Cm juga bakalan tayang di bioskop-bioskop seantero Indonesia. Cihuuyyy!!
Reading Time: