Hijaubiru: CatPer -- Pendakian
Tampilkan postingan dengan label CatPer -- Pendakian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CatPer -- Pendakian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2022

Bertemu Eks Bandara dan Istana di Belantara Argopuro
November 15, 20220 Comments

 


Pernahkah kamu membayangkan bahwa di Indonesia ada istana di puncak gunung, layaknya di dongeng-dongeng? Tempat ini ternyata bukan fiksi belaka. Di Gunung Argopuro, Dataran Tinggi Yang, Jawa Timur, istana tersebut pernah ada; nyata. Bahkan, lapangan terbang tertinggi di Jawa pun sempat berdiri di tengah-tengah hutan belantara ini.

            Berbicara tentang Argopuro tak bisa lepas dari legenda Dewi Rengganis. Putri Majapahit tersebut mengasingkan diri ke sini kemudian membangun istananya di salah satu puncak gunung. Puing kuno inilah sumber nama Argopuro yang berarti ‘tempat suci di gunung’.

            “Di sini agak beda dengan gunung-gunung lain yang biasa didaki. Selain ada bangunan bersejarah, hewannya juga lebih banyak karena termasuk suaka margasatwa,” tutur Susiono, petugas BKSDA Dataran Tinggi Yang, desa Baderan, kabupaten Situbondo.

Bapak ini lantas menceritakan serba-serbi Argopuro yang perlu diketahui oleh kami bertujuh sebelum mendaki.

“Musim hujan begini harus lebih hati-hati,” nasihatnya sebelum kami berangkat.

Benar saja, hujan deras mengguyur tak lama setelah tim beranjak dari pos perizinan. Januari memang bulan hujan. Jalur pendakian terpanjang di Jawa berjarak tak kurang dari empat puluh kilometer itu tentu akan sangat licin. Belum lagi tempat berkemah yang rawan basah. Untunglah Argopuro memiliki beberapa camp yang cukup nyaman untuk mendirikan tenda. Salah satunya Cikasur.

 

Cikasur: Sabana Bekas Lapangan Terbang

Dari Baderan, kami butuh dua hari perjalanan dan satu kali menginap untuk mencapai Cikasur. Padang rumput ini luas, datar, dan punya sungai bersih yang ditumbuhi gerumbulan selada air. Para pendaki biasanya tak akan melewatkan kesempatan mencicipi sayuran ini di habitat aslinya. Tentunya dalam jumlah wajar, tak boleh berlebihan.

Hari menginjak petang ketika tim mencapai lokasi ini. Seekor burung merak yang bertengger di salah satu dahan buru-buru menyingkir ketika rombongan manusia berdatangan. Di antara sisa-sisa sinar senja, terlihat tembok-tembok rendah berwarna putih berdiri dikepung ilalang dan semak-semak. Itulah bekas shelter zaman Belanda yang diceritakan Pak Susiono.

Cikasur memang punya sejarah panjang. Penjelajah Belanda bernama Junghuhn pernah terpesona oleh kecantikan Cikasur. Pada 1880, ia mengusulkan pembangunan hill station seperti yang dimiliki Inggris di Darjeeling. Ide ini disambut baik oleh seorang pegawai pemerintah Hindia Belanda bernama Van Gennep sehingga perencanaannya dimulai.

Sayang, proyek itu batal pada 1916 karena dianggap kurang meyakinkan. Cikasur pun diserahkan pada Ledeboer, seorang administrator perkebunan kopi, agar dikembangkan menjadi tempat konservasi rusa. Namun, pemerintah Hindia Belanda mengambil alihnya kembali pada tahun 1940-an untuk dijadikan lapangan terbang.

Saat itulah muncul desas-desus mistis yang diyakini masyarakat setempat hingga kini. Mereka percaya bahwa pembuatan bandara kecil tersebut bukan demi alasan pertahanan saja, melainkan juga untuk membawa emas yang terkandung di tanah Cikasur secara diam-diam. Rakyat yang dipekerjakan paksa dalam pembangunannya kemudian dibunuh agar kabar tak tersebar luas. Oleh sebab itu, sabana ini dianggap angker karena banyak yang mengaku mendengar ramai suara manusia atau derap sepatu tentara saat tengah malam.

Terlepas mendengar suara mistis atau tidak, para pendaki sepakat bahwa suara yang pasti didengar di padang rumput luas ini adalah kokok ayam hutan. Selain bunyi yang khas, ayam hutan juga lebih ramping dan gesit. Ketika pagi tiba, tim kami beberapa kali melihat badannya yang berbulu hitam akan tampak berseliweran dengan cepat di antara ilalang dan bekas landasan pacu. 

Ya, selain sisa bangunan, bekas landasan pacu zaman perang itu masih ada sampai sekarang. Jalurnya membentang sepanjang satu kilometer dari lereng bukit ke sisi hutan. Ketika kabut menghilang, alurnya jelas terlihat dari tempat kami mendirikan tenda.

 

 

Istana Dewi Rengganis

Argopuro tak hanya menyimpan kisah zaman penjajahan. Puing-puing bangunan tertua berdiri di dua dari tiga puncak tertingginya. Kami mencapai Sabana Lonceng, checkpoint sebelum puncak, dua hari setelah meninggalkan Cikasur. Di sinilah titik kumpul sebelum mencapai Puncak Rengganis, Hyang/Arca, atau Argopuro.

Kami memilih Puncak Rengganis dahulu karena lebih dekat. Sekitar dua puluh menit mendaki santai, pepohonan mulai berkurang dan digantikan pemandangan tanah putih dari batuan kapur serta semak-semak cantigi. Di sinilah terdapat sisa-sisa istana yang dibangun di akhir masa keemasan Majapahit itu. Misalnya, cekungan yang dibilang Pak Susiono sebagai kolam pribadi sang putri. Tidak jauh dari kolam, terdapat struktur bebatuan persegi panjang yang disusun rendah mengelilingi dua bujur sangkar kecil. Inilah makam dua abdi setia Dewi Rengganis.

Perjalanan dilanjutkan dengan meniti bukit kapur. Lima menit setelahnya, tempat sang putri pernah bersemedi mulai terlihat. Tak ada wujud utuhnya, tetapi masih tampak batu-batu sebesar kepala manusia yang membentuk tangga pendek dan dasar suatu bangunan.

Mengapa Dewi Rengganis membangun istananya di puncak? Karena masyarakat masa itu meyakini bahwa puncak gunung adalah tempat dewa bersemayam. Apalagi, Puncak Rengganis terletak di dekat bekas kawah. Mereka percaya bahwa kawah merupakan pintu masuk alam ruh.

Selanjutnya kami turun karena mengejar waktu ke puncak tertinggi di Dataran Tinggi Yang, yaitu Puncak Argopuro, dengan ketinggian 3.080 mdpl. Namun, mendung mulai datang. Padahal sebelumnya, cuaca siang itu tergolong cerah. Begitulah cuaca di gunung, mudah berganti-ganti dalam hitungan menit.

Akhirnya sampailah kami di Puncak Argopuro, yang berupa tanah landai dengan pepohonan yang menghitam sisa kebakaran. Kali ini kabut sudah membekap sekeliling sehingga bukit-bukit lain tidak terlihat sama sekali. Bahkan, jarak pandang makin pendek ketika kami mendekati Puncak Hyang.

Kewaspadaan meningkat jauh mengingat jalan meniti punggung bukit dengan jurang menganga di kanan-kiri. Sebuah patung kuno terduduk di tepi jalur pendakian selebar satu meter, tak jauh dari plang penanda Puncak Hyang. Arca inilah alasan puncak ini juga dikenal sebagai Puncak Arca.

Sambaran kilat mulai terlihat di kejauhan. Ditemani hujan yang berubah badai, tim pun turun ke Sabana Lonceng. Tuntas sudah rasa penasaran tentang dongeng istana putri di puncak gunung dan bandara tertinggi yang sering disambangi hewan liar. Setiap gunung dan perjalanan punya cerita yang berbeda. Keistimewaan apa lagi yang bisa ditemukan di gunung-gunung nusantara lainnya?








--Tulisan ini alhamdulillah pernah jadi salah satu

naskah favorit kategori feature perjalanan Bulan Bahasa UGM 2019.

NB: Beberapa bagian telah diedit ulang--



Referensi:

Hoogerwerf, A. 1974. Report on Visit to Wildlife Reserves in East Java. Netherlands Commission for International Nature Protection, Austerlitz.

 

Van Der Meer, A. H. C. 2014. Ambivalent Hegemony: Culture and Power in Colonial Java, 1808-1927. University of New Jersey. Disertasi.

 

Whitten, T., R. E. Soeriaatmadja, dan S. A. Afiff. 1999. Seri Ekologi Jawa-Bali. Prenhallindo, Jakarta.

 

Widyatama, H. A. 2016. Penempatan Punden Berundak di Puncak Pegunungan Iyang Argopuro, Situbondo, Jawa Timur: Tinjauan Aspek Lingkungan dan Religi yang Mempengaruhinya. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gadjah Mada. Skripsi.

Reading Time:

Minggu, 15 Desember 2013

Edelweis Bukan Untukku
Desember 15, 20131 Comments
Bukan pula untukmu
Bukan untuk kita

Dia ada untuk dinikmati
Untuk dipandangi
Bukan untuk dicuri pulang

Edelweis yang dilindungi
Jangan kau bawa pergi


----------------------------------------------------------

Jadi, kalau di novel-novel, ada cowok yang katanya romantis sampe bela-belain bawain edelweis buat ceweknya, sebenernya dia nggak ngerti arti cinta. Jangan ditiru ya ;)
Reading Time:

Selasa, 04 Oktober 2011

Ekspedisi Semeru : Hari Keempat & Kelima
Oktober 04, 20111 Comments

HARI KEEMPAT: SENIN, 20 JUNI 2011
Pukul 01.00 WIB kami memulai perjalanan. Pertama-tama, rombongan yang terdiri dari belasan orang ini melingkar dan berdoa. Setelah itu kami berjalan berbaris memanjang seperti kereta api. Mengikuti jalan setapak yang kadang bercabang tapi nampak jelas di antara rerumputan. Jalan di savanna ini nggak neko-neko. Lurus dan datar. Baru setelah beberapa lama kemudian, jalan njujlug turun berbatu. Tapi nggak banyak.
Setelah savanna, kami memasuki hutan lagi. Karena gelap, saya nggak tahu hutan ini ‘bentuknya’ kayak gimana. Tapi jalannya sejenis dengan jalan di hutan Cemoro Kandang, nanjak naik gitulah. Untungnya, untuk muncak kita nggak perlu bawa carrier. Jadi nggak begitu berat trekingnya. Tenda dan carrier kami tinggal di camp di Kalimati (insyaallah aman), sedang untuk muncak kami hanya bawa ransel.
Di tengah jalan, kami menemukan sebuah tempat dengan tenda-tenda. Nah, ini camp terakhir sebelum menuju puncak. Arcopodo. Kalau mau, sebenernya bisa juga nge-camp di sini, bukan di Kalimati. Kebetulan waktu itu Kalimati juga lagi rame dan di Arcopodo lebih sepi. Tapi kami milih Kalimati aja.
Untuk jalur selanjutnya, siap-siap buka mata dan pikiran. Pasalnya, udah jalannya berteras-teras dan nanjak banget, banyak pohon-pohon besar yang tumbang nutupin jalan (kadang sampai bingung harus jalan ke mana), juga kanan-kiri yang sudah mulai jurang. Jurang beneran ini, dalem, dengan jalan setapak yang kami lalui yang lebarnya nggak seberapa. Jadi, hati-hati.
Menjelang memasuki zona pasir, rombongan kami istirahat sejenak. Sekitar 30 menit-an. Kami memanfaatkan kesempatan ini untuk istirahat sebaik-baiknya sebelum ‘maju tempur’ menuju puncak. Nyelonjorin kaki, minum, geletakan. Nggak lupa, lihat ke langit, yang kapan pun tetap keren dan indah dipandang.
Seperti biasa, langit biru gelap gagah membentang di atas kepala kami. Dihiasi beratus-ratus, beribu-ribu, bahkan berjuta-juta bintang yang gemerlapan. Besar dan kecil, berkelap-kelip. Membentuk kumpulan yang bagaikan supernova atau galaksi mini. Kalau lihat ke sekitar, yang ada siluet pepohonan. Kalau lihat ke kejauhan, yang ada kegelapan dengan siluet relief-relief permukaan bumi. Ditambah cahaya-cahaya lampu yang buanyak yang kemungkinan bersumber dari kota terdekat yang, herannya, masih kelihatan sampai tempat setinggi ini. Subhanallah....
Saking lamanya mendongak ngelihatin langit dan merem-melek menghayati pemandangan, saya sampai ditegur salah satu teman dari rombongan, “Jangan tidur lho ya!”. Yang lain pun ketawa dan alhasil mata saya langsung membuka.
Setelah ini, menuju puncak.
Jalur menuju puncak dibuka dengan jalur pasir campur tanah. Menjelang keluar dari hutan, ada beberapa tonggak-tonggak dari besi dan rantai yang tertancap. Warnanya hitam-kuning. Tonggak ini untuk menandai jalur yang benar menuju puncak. Setelah beberapa tonggakan lewat, sudah nggak ada penanda lagi. Dulunya, ada penanda alami, yaitu Cemoro Tunggal. Cemoro Tunggal adalah sebuah pohon cemara yang berdiri sendirian di antara pasir, sebagai penanda kita ada di jalur yang benar. Tapi saat itu, saya udah nggak nemuin lagi. Kabarnya, udah mati kena lahar.
Oh iya, sebelum naik, sebaiknya jalur disimpan di GPS. Soalnya Semeru itu kan pegunungan. Nah, kalau kita melenceng dikiit aja dari jalur waktu turun dari puncak, bisa-bisa kita turunnya di salah satu gunung Pegunungan Tengger, bukan turun di Arcopodo atau Kalimati.
Seperti yang sudah saya sebutkan di awal, jalur menuju puncak adalah pasir. Kenapa pasir dan bukan tanah? Karena tanah dan batu di puncak Semeru sudah sering terkena panas dari batuan atau lahar yang keluar dari kawah Jonggring Saloka, jadinya lapuk dan jadi pasir semua. Pasir ini juga bukan pasir yang liat sehingga mudah diinjak, tapi lebih mirip pasir sirtu yang digunakan untuk membangun rumah. Jadi saat diinjak, pasir itu melorot turun dan otomatis juga membawa langkah kaki kita turun. Bener deh kata para senior saya, “Naik ke puncak Semeru itu satu langkah naik dua langkah turun”. Untungnya, antara pendaki satu dan lain (meski nggak saling kenal), kalau lihat ada yang berhenti, langsung disemangati  :D
Selain pasir, di sini juga ada banyak batu, besar dan kecil. Nah, kalau biasanya di gunung lain batu-batu ini bisa dipercaya sebagai pijakan, jangan harap di sini juga sama. Di Semeru, batu segede apapun kalau diinjak, ya tetep aja jatuh. Soalnya nggak membenam di tanah. Malah kadang, sesuatu yang nampak seperti batu yang bisa dipakai pegangan sebenarnya adalah pasir. Bentuknya kaku, memang. Tapi begitu dipegang, langsung berjatuhan jadi pasir. Mirip dengan pasir yang basah lalu membentuk saat kena panas.
Yah, kalau dibilang, jalur berpasir inilah yang paling ‘makan hati’. Udah medannya pasir jadi sulit naik, kanan-kiri udah jurang tempat mengalirnya lava. Dan juga, jalur pasir ini ‘menipu’. Waktu malam, kelihatannya cahaya-cahaya senter di atas itu cahaya senter orang yang udah muncak. Ternyata, mereka juga masih di jalan, boook!
Butuh waktu 5 jam bagi tim kami untuk sampai ke puncak dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Keindahan alam saat matahari terbit dan matahari sudah terbit sepenuhnya nggak bisa sepenuhnya saya hayati karena target menuju puncak belum tercapai padahal matahari sudah tinggi. Dan perlu dicatat, sekitar pukul 10.00 WIB atau 11.00 WIB dan seterusnya, angin berhembus ke arah utara, arah track kami, menghembuskan gas beracun dari kawah Jonggring Saloka. Makanya, pukul 10.00 WIB ke atas, pendaki dilarang muncak. Tiap orang yang mendaki Semeru harus tahu hal ini, karena kalau nggak, bisa aja berakhir seperti Soe Hok Gie dan Idhan Lubis (mahasiswa Pecinta Alam dari UI) yang meninggal di Semeru pada 6 Desember 1969.
Sebenarnya puncak sudah nggak lama (kalau dibandingin waktu yang kami habiskan untuk mencapai titik di mana kami berdiri sekarang). Tapi ketakutan saya akan gas beracun muncul saat saya melihat jam tangan yang sudah menunjuk hampir pukul 7. Pikir saya, belum waktu turunnya nanti butuh beberapa jam. Akhirnya saya sampaikan kekhawatiran saya kepada Nauval sebagai ketua tim bahwa saya ingin turun jika waktunya emang nggak mungkin. Tapi mbak Lisa berpendapat bahwa puncak tinggal sebentar lagi, eman kalau nggak sekalian muncak. Terbagi dalam 2 kubu, akhirnya Nauval memutuskan kalau jam 8 kami belum muncak, kami mending turun.
Kami pun melanjutkan perjalanan. Dasar mental udah down, saya berjalan pendek-pendek. Itu pun harus dibujuk Nauval bahwa saya boleh break down sebentar di batu besar yang bentuknya seperti unta. Saat saya sampai di batu berbentuk unta, istirahat sebentar, lalu jalan lagi pendek-pendek. Saya sampe mikir, “Kok nggak sampe-sampe sih?” dan kadar down saya pun bertambah.
Tapi seketika itu juga Nauval bertemu pendaki dari Surabaya yang mau turun. Nauval bertanya berapa lama waktu menuju puncak. Pendaki sipit berambut agak gondrong itu menjawab, “Cuma 15 menit dari sini, Mas”. Apaaa??? Dan seketika itu juga semangat saya langsung naik drastis. 15 menit dibandingkan 5 jam bukan apa-apa! Langsung aja tancap gas, menyusul mbak Lisa yang udah jauh di depan.
Alhamdulillaaaaaaah!!!!! Akhirnya kami sampai juga di puncak. Yang sampai pertama adalah mbak Lisa, disusul Nauval, lalu saya. Senengnya minta ampun, meskipun cuapek banget. Mbak Lisa dan Nauval langsung mendirikan shalat di sana, sedang saya melihat-lihat sekeliling.

Cukup banyak juga orang yang masih di sini. Ada rombongan kami mendaki semalam, ada juga rombongan yang mendirikan tenda dome untuk persiapan pernikahan. Puncak ini cukup luas, dengan plang bertulisan ‘Puncak’ di tengah-tengah. Tanahnya pasir, tapi padat. Dari matahari muncul sampai sekarang, cuacanya cerah dan tentu aja panas karena nggak ada tumbuhan satu pun. Dari puncak, yang terlihat adalah relief-relief bumi yang bervariasi. Mulai dari datar sampai bergunung-gunung. Konon katanya dari sini bisa ngelihat laut. Tapi waktu itu, saya nggak lihat. Yang saya lihat cuma gumpalan awan putih yang nampak seperti kapas di segala penjuru. Di sisi selatan, terlihat puncak lain Semeru, Jonggring Saloka.
Yup, Semeru memiliki 2 puncak, yakni puncak Mahameru yang merupakan puncak tertinggi  (3676 mdpl) dan puncak Jonggring Saloka yang ada kawahnya. Kawah ini meletus tiap 15 menit. Tapi, pendaki dilarang berkunjung ke puncak yang satu ini karena ya ada gas beracunnya tadi.
Di puncak, kami bergabung dengan rombongan kembali. Bagi-bagi jajan dan foto-foto bersama. Sudah menjadi tradisi SMALAPALA, saat mencapai puncak gunung atau tebing, harus berfoto dengan bendera  SMALAPALA dan merah-putih. Sayangnya, foto kami bertiga memegang bendera SMALAPALA dan merah-putih, setelah dicek di Ranu Pani, ternyata nggak ada entah kenapa :’(
 Sejam di puncak, kami pun turun. Kalau perjalanan turun ini lebih cepat, cuma makan waktu 2 jam. Tapi ya itu, karena saat turun sepatu harus bergesekan dengan batu-batu, maka sepatu mbak Lisa dan saya pun sobeklah. Nggak apa deh, hitung-hitung sebagai kenang-kenangan J
Tengah hari, kami sampai di camp Kalimati. Saya dan mbak Lisa packing dan istirahat, sedang Nauval pergi mengambil air di Sumber Mani yang berjarak 2 jam pulang-pergi dari Kalimati.
Setelah semua barang sudah dipacking beres, pukul 14.00 WIB kami dan rombongan pun pulang, kembali ke Ranu Kumbolo, tempat para ST (Support Team) menunggu kami.
Melewati Cemoro Kandang, Oro-Oro Ombo, dan Tanjakan Cinta dalam perjalanan pulang hanya membutuhkan waktu 3 jam. Oh iya, waktu akan keluar dari Cemoro Kandang, kami bertemu lagi dengan mas-mas kribo, juga Melani beserta teman-temannya. Merekalah yang kami mintai tolong untuk mengambil foto kami bertiga.
Pukul 17.00 WIB kami sampai di Ranu Kumbolo. Langsung disambut oleh ST dan juga pendaki-pendaki lain (bahkan sampai dikasih teh hangat dan biskuit segala, terima kasih J J J). Kami habiskan mie yang dibikinin ST karena emang lapar, meskipun ST berjanji mau bikinin kami nasi goreng saat kami turun.
Setelah beres-beres, kami pun melanjutkan perjalanan ke Ranu Pani. Treking kali ini dipimpin Afi. Perjalanan malam oey! Tapi tetep aja jalurnya rame karena masih banyak pendaki yang lewat menuju Ranu Kumbolo. Gelap, jelas. Tapi hawa dingin nggak kerasa karena kami terus berjalan. Kerasanya waktu kami istirahat di pos. Brrr, dingin!
Oh iya, ada kejadian unik yang terjadi saat treking malam ini. Di perjalanan antara entah pos berapa ke pos berapa, Afi berhenti tiba-tiba. Ternyata di depannya ada seekor anak babi hutan. Mbak Mela berseru-seru ketakutan. Aneh, saya kok nggak lihat? Padahal posisi saya ada di belakang Afi persis. Waktu Afi berusaha menghalaunya, saya melongok-longok ke depan. Tapi tetap aja, nggak kelihatan. Kata mas Doni sih karena, “Kamu kalau treking lihat bawah terus sih!”.
Setelah melewati pos 1, kami makin bersemangat. Udah dekat soalnya. Apalagi saat menemui jalan berpaving, wah, tambah semangat. Begitu keluar hutan dan di depan kami yang terlihat adalah perkebunan penduduk, kami pun berucap syukur.
Kami pun kembali ke pondok pendaki di Ranu Pani. Setelah ganti baju, bersih-bersih, dan beres-beres, kami pun melakukan evaluasi. Sial, saat evaluasi saya dan Nauval tertidur dan akhirnya harus push up 3 seri sebagai konsekuensi. Kelar evaluasi, gelar sleeping bag, dan ... good night everyone! Kami pun kembali ke peradaban.

HARI KELIMA: SELASA, 21 JUNI 2011
Kami bangun pagi dan shalat. Tidak ada yang mandi kecuali mas Doni, karena hawanya dingin banget. Setelah menghabiskan beberapa saat meng-zombie, kami pun memasak sarapan. Kali ini kami berusaha menghabiskan persediaan makanan yang ada. Jadilah kami makan mie dengan beberapa topping, juga sup merah yang hanya berbahan sosis dan air serta bumbu nasi goreng yang ternyata enak juga.
Setelah itu, kami pun beres-beres secepat mungkin. Soalnya, jeep yang menjemput kami akan datang pukul 11.00 WIB. Setelah semua barang masuk ke dalam carrier, kami pun berpamitan pada pak Hambali dan turun ke pos perizinan, menunggu jeep.
......................
Tapi malesnya, pukul 11.00 WIB lewat, jeep belum juga datang. Mas Wisnu mencoba menghubungi, tapi berkali-kali gagal. Akhirnya berhasil juga sih. Dan jawaban pak jeep-nya adalah, dia lagi nyopirin bule ke Bromo. Aaarrggghhh! Akhirnya kami menghabiskan waktu untuk foto-foto. Mengabadikan Ranu Pani dan kebun-kebunnya. Memuas-muaskan diri sebelum kembali ke Surabaya.
Sambil menunggu, saya mengamati keadaan (halah!). Berjalan-jalan nggak jelas kesana-kemari, ngelihatin papan vandalisme, ngebaca papan larangan dan hal-hal terkait Semeru di papan pos perizinan, tidur sejenak di bangku sambil ngelihatin penduduk yang lalu-lalang dengan motornya, ngelihatin teman sependakian dari Jember yang akhirnya balik ke kotanya dengan motor, ngelihatin truk yang selalu penuh bawa hasil panen. Sebuah kenikmatan tersendiri, ngelihatin doang apa yang ada di depan kita tanpa melakukan apa-apa (bengong mode: on).
Yang bikin saya heran, truk sayuran tadi itu bermuatan penuh. Kalau dijual di kota, kan lumayan itu. Tapi kenapa penduduk di sini kelihatannya nggak makmur-makmur banget? Yah, jawabannya langsung ketemu. Karena mereka jual panennya ke tengkulak yang notabene membeli dengan harga sangat murah. Ya gini ini nih, yang bikin kesenjangan sosial selalu ada dan negara nggak makmur-makmur. Nggak adil macam begini nih. Pft.
Hari sudah menjelang siang, lewat dhuhur. Rupanya, tiap tengah hari, kegiatan berkebun para penduduk selesai. Saya lihat, saat dhuhur, berduyun-duyun penduduk berjalan dari arah perkebunan ke rumah mereka. Baik yang sudah tua, dewasa, maupun anak-anak. Beberapa dari mereka memanggul kayu di punggung. Mungkin untuk kayu bakar.
Tapi jeep belum juga datang. Kelaparan namun malas masak, kami pun pergi ke warung di dekat situ.
Warungnya sederhana. Terbuat dari kayu dan dicat kuning. Samar-samar saya mencium bau kayu terbakar. Ternyata, di situ ada tungku untuk memasak dan bahan bakarnya dari kayu. Bukan maksud apa nih, tapi baru kali ini saya tahu masih ada yang memasak pakai kayu bakar.
Saya dan Nishock lalu memesan nasi goreng telur. Lalu menyusul Afi yang akhirnya ikut makan. Hebatnya hawa di gunung ya gini ini nih. Waktu itu kan kami pesan fanta dingin. Eh, kata ibunya, nggak pakai es pun fantanya udah dingin. Ckckck!
Kelar makan, kami kembali ke pos perizinan. Ternyata jeep belum datang juga! Sebel nungguin, kami (aku, Nishock, mbak Mela) akhirnya jalan-jalan ke Ranu Regulo, sebuah danau di dekat Ranu Pani yang nggak terlalu terkenal.
Jalan masuknya lewat jalan berpaving di depan pos perizinan. Jalannya jelas tapi sempit, cuma cukup buat motor. Dengan pemandangan hutan di sisi kiri dan Ranu Pani di sisi kanan. Nah, setelah ±200 meter berjalan, jalan akan bercabang dua: terus dan ke kiri. Untuk ke Ranu Regulo, kita ambil jalan yang terus. Setelah beberapa ratus meter, tadaaa! Sampailah kami di Ranu Regulo.

Ranu Regulo tidak seluas Ranu Pani. Tapi di danau ini tidak terdapat alga. Bersih, walau airnya nggak bening, tapi bersih. Di tepi danau terdapat pondok kecil dari bambu yang udah nggak terawat. Juga ada 2 papan vandalisme. Danau ini sepi banget. Waktu itu, pengunjungnya cuma kami. Tapi meskipun sepi, duduk di jembatan yang menjorok ke danau dengan teman-teman adalah kedamaian tersendiri.
Kami tidak berlama-lama di sini karena khawatir jeep sudah datang. Tapi ternyata, di tengah jalan kami bertemu dengan Nauval yang bilang bahwa jeep belum datang. Ya sudahlah.
Kami menunggu lagi di pos perizinan.
Pukul 15.00 WIB, jeep yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Kami segera menaikkan carrier dan meloncat ke atas jeep terbuka itu.
Ternyata jeep terbuka berisiko juga. Waktu kami melewati jalan yang berdebu, otomatis debunya nempel semua di badan kami. Bahkan rambut mas Wisnu dan Nauval sampai kuning kena debu *ngakak*
Menjelang maghrib sampailah kami di Tumpang. Kami lalu menunggu bemo TA untuk mengangkut kami ke Arjosari. Sambil menunggu, kali ini kami beli jemblem karena saat itu kami yang belum pernah makan jemblem penasaran. FYI, jemblem adalah kue gorengan berbentuk bulat yang terbuat dari ketela yang dalamnya berisi cairan manis. Di dalam bemo, jemblem itu kami makan.
Nggak lama, sampailah kami di terminal Arjosari. Langsung cari bus dan duduk. Kami habiskan perjalanan ke Surabaya dengan tidur. Ketika sampai di terminal Bungurasih, kami naik colt ke sekolah, yang lalu dioper naik bemo. Pukul 20.00 WIB, sampailah kami di sekolah yang sepi, disambut para senior. Setelah masing-masing orang jemputannya sudah datang, kami pun pulang ke rumah masing-masing, dengan tetap membiarkan kenangan akan Semeru di ingatan.
Alhamdulillah...

“Mahameru itu bukan sekedar perjalanan sepasang kaki,
tapi juga perjalanan sebuah hati”
Reading Time:
Ekspedisi Semeru : Hari Ketiga
Oktober 04, 20110 Comments
HARI KETIGA: MINGGU, 19 JUNI 2011
Kami bangun setelah sunrise, 05.30 WIB, sehingga, yaa, agak kecewa juga. Padahal Ranu Kumbolo kan terkenal dengan sunrise-nya. Tapi setelah keluar dome, mikir juga. Sunrise kayak gimana, lha wong kabutnya aja tebal begini?
Kami baru bisa menikmati sunrise setelah matahari agak tinggi dan kabut mulai hilang, 06.30 WIB. Udara mulai menghangat dan terlihat sinar matahari menyembul dari balik bukit, menimbulkan siluet dan memantulkan sinar cerah di atas permukaan danau. Kalau kita lihat ke Tanjakan Cinta yang juga mulai terang, di langit masih terlihat bulan. Bulat, bekas purnama penuh, dengan warna putih yang jelas. Subhanallah kerennyaaa!!!


Puas foto-foto (dengan Support Team yang juga di situ), kami pun masak dan packing. Pukul 10.00 WIB semuanya kelar dan kami pun siap melanjutkan perjalanan.
Bersama para pendaki lain, kami pun berangkat. Jalur pertama, Tanjakan Cinta. Mitosnya sih, kalau kita terus mendaki sampai ke puncak bukit dan sama sekali tidak melihat ke belakang sambil memikirkan orang yang kita cintai, maka kita akan mendapatkan cinta sejati dengan orang tersebut. Mitos aja lho ya. Karena, percaya deh, bakalan sulit nggak membalikkan badan ke belakang, untuk sekedar melihat Ranu Kumbolo dari ketinggian.
Oh iya, Tanjakan Cinta ini ‘menipu’ saya. Kalau dari jauh, kelihatannya jalurnya nggak terlalu naik. Bahkan terkesan landai. Tapi begitu treking, hmph, baru kerasa naiknya. Alhasil, begitu sampai di puncak bukit, saya sudah ngos-ngosan
.
Setelah puas memandangi Ranu Kumbolo dari puncak bukit (tetap sambil ngos-ngosan), kami balik menengok ke depan. Oro-Oro Ombo, dengan padang alang-alangnya, membuat hamparan di depan kami terlihat seperti Afrika kecil.
Mengikuti rombongan, kami meniti jalan kecil di tepi bukit. Melipir bukit demi bukit hingga sampailah kami di ujung bukit. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan membelah padang. Tapi jalannya terlihat jelas kok, jadi nggak perlu nyari jalan sendiri.
Oro-Oro Ombo memang terlihat kering dan tidak hijau. Tapi pesonanya yang tersendiri tetap menyihir. Lihat kemana-mana, alang-alang. Lihat kemana-mana, rumput. Tanahnya berpasir. Kesannya mirip gurun, tapi masih ada tanamannya.
Sekitar tengah hari, kami sampai di ‘pintu masuk’ Cemoro Kandang. Jadi setelah padang alang-alang, kami langsung memasuki hutan. Berbeda dengan hutan yang kami jumpai di awal treking kemarin, hutan ini tidak basah. Mungkin karena sudah siang, embun sudah menguap. Jalannya juga kering dan tidak licin, meski ada beberapa pohon (besar) yang tumbang menghalangi jalan. Apa yah, hutan konifer ini mirip dengan hutan-hutan di luar negeri yang isinya cemara aja. Tapi nggak lembap, malah cenderung kering dan panas. Di sini jalurnya lumayan naik.
Di akhir hutan kami dan rombongan pendaki lain berhenti. Minum, duduk-duduk, cerita-cerita, bagi-bagi makanan. Pendeknya mengakrabkan diri sesama pendaki, lah. Heran ya, di hutan, orang nggak kenal aja bisa akrab. Tapi di kota, kenal aja kadang, boro-boro nyapa.
Setelah melewati hutan, jalan mulai agak melebar dan pepohonan mulai jarang. Jalannya juga mulai turun. Katanya sih, setelah ngelewati hutan, kita akan bertemu padang edelweis. Tapi kami cari-cari juga, nggak ketemu-ketemu edelweisnya. Sampai akhirnya sampailah kami di Kalimati.
Untuk mencapai camp Kalimati, kami kembali harus menyusuri padang rumput. Camp ini letaknya berseberangan dengan ‘pintu keluar’ hutan yang barusan kami lewati, di antara pepohonan hutan seberang jalan. Dari kejauhan terlihat pondok pendaki berdiri dikelilingi tenda-tenda dome. Jadi inget cerita-cerita prairie macam Little House In The Prairie-nya Laura Ingalls atau di beberapa tempat yang diceritakan Karl May di dalam karyanya,  Winnetou.
Pukul 13.00-an WIB kami sampai di Kalimati. Kami mendekati pondok bersama rombongan. Sampai di sana, tiba-tiba kami diminta sedang pura-pura treking kemudian kami difoto. Eh, ternyata yang memotret adalah Don Osman, fotografer ulung yang sudah menjelajah tempat-tempat menantang dunia. (Setelah saya sampai di rumah dan baca-baca di internet, ternyata Don Osman memang datang khusus untuk mengabadikan pernikahan pertama di puncak gunung itu).

Setelah itu, kami duduk-duduk di tempat yang datar. Nyantai dulu. Foto-foto dan lain-lain. Nah, baru di sinilah saya temui edelweis, bunga abadi. Bunga ini terkenal sebagai incaran para pendaki karena tidak bisa ditemui di sembarang tempat. Selain itu, warna putihnya dan periode mekarnya yang bertahan lama hingga berbulan-bulan cukup menarik. Tapi hati-hati, jangan dipetik atau malah dibawa pulang. Karena biasanya di Ranu Kumbolo akan diperiksa dan kalau ketahuan bakalan disuruh mengembalikannya di tempat memetiknya. Tapi meski nggak diperiksa, ya tetap jangan diambil, karena edelweis itu dilindungi. Hampir punah karena keseringan dipetik. Kasihan kan. Menyayangi alam sedikit deh!
Oh iya, di sini HT udah nggak bisa dipake. Saat itu, kami berusaha menghubungi ST di Ranu Kumbolo. Tapi rupanya frekuensinya nggak nyampe, jadi putuslah komunikasi kami.
Setelah itu kami membangun tenda di dekat rombongan Jember yang kami temui di Ranu Pani dan di dekat tenda rombongan alumni SMA Muhammadiyah Sidoarjo. Setelah mengatur barang dan lain-lain, kami bongkar muat makanan. Kami membawa buanyaaak sekali mie instan. Rencananya siang itu kami makan mie empal gentong atas rekomendasi Cugos.
Asyik banget kalau tendanya dekatan gitu dengan pintu yang sama-sama menghadap tengah. Jadi bisa lebih mudah interaksi satu sama lain. Jadilah selama siang itu, kami istirahat sambil ngobrol dengan rombongan lain. Malahan ditawari roti bakar dengan havermut cokelat yang uenak banget. Saling meledek dan bercanda antar rombongan. Seperti saat itu, ada salah seorang yang tidak bisa makan bila mendengar kata-kata jorok. Tapi teman-teman sesama pendaki malah mengerjainya dengan berkata-kata jorok saat dia makan. Pun saat ada sesuatu yang salah, kambing hitamnya pun dia. Hahaha, lucu banget pokoknya! J
Menjelang isya semua kelar. Makan, udah. Packing di backpack, udah. Waktunya tidur untuk menghemat energi.
-->

PUKUL 23.00 WIB
Kami bangun. Seperti biasa mbak Lisa yang bangun duluan lalu membangunkan yang lain. Di antara kami, mbak Lisa yang paling rajin bangun. Sedang yang lainnya kalau dibangunin, “Hah? Apa? Iya,” lalu lelap lagi.
Dengan tubuh masih terbalut jaket tebal, satu per satu kami keluar untuk mengecek kondisi. Jika kondisi buruk, kami tidak akan muncak hari ini. Nauval keluar. Lama, baru balik. Ternyata dia ngobrol dulu dengan pendaki lain. Lalu mbak Lisa, lalu saya.
Wah, pemandangan malam di Kalimati nggak kalah keren! Gelap, dengan langit biru gelap dan bintang-bintangnya. Siluet bukit-bukit dan pepohonan di kejauhan.  Bulan, entah masih purnama entah sudah fase gibbous, terang di atas langit. Cahaya di beberapa tenda. Kabut tebal di kejauhan, menutupi padang di depan kami. Rerumputan bergerak digoyang angin yang mendesau. Anginnya! Benar-benar berbunyi mendesau keras. Memori saya langsung melayang lagi pada karya Karl May, Winnetou. Wah, tinggal dikasih lolongan serigala, komplet, nih, pikir saya. Dan seketika itu juga saya langsung parno, gimana kalau ketemu serigala beneran? Mana lagi nggak bawa pisau lagi! *pikiran paranoid, pikiran paranoid*
Saya mulai berjalan-jalan. Ternyata embun sudah jatuh. Tanaman-tanaman sudah mulai basah. Jalan dan jalan lagi, sambil memerhatikan letak tenda, jangan sampai hilang dari pandangan.
Dinginnya menggigit, dari mulut sudah keluar asap kalau bicara (sebenarnya sudah keluar asap sejak sore tadi). Tapi entah karena suhunya lebih hangat dari Ranu Kumbolo atau tubuh yang sudah beradaptasi, kami bertiga sudah mulai bisa menikmati dingin ini.
Kami menunggu rombongan yang akan berangkat. Rencananya tepat tengah malam kami berangkat. Tapi kami masih menunggu rombongan yang sedari siang bersama kami. Maka, kami berangkat pukul 01.00 WIB.

Catatan berlanjut ke Ekspedisi Semeru: Hari Keempat & Kelima
Reading Time:
Ekspedisi Semeru : Hari Kedua
Oktober 04, 20110 Comments
HARI KEDUA: SABTU, 18 JUNI 2011
Kami bangun pada shubuh. Dibangunin mbak Lisa. Sambil kriyep-kriyep saya dengarkan suara di luar dome yang kedengaran seperti hujan. Setelah keluar, ternyata bukan hujan air tapi hujan embun seperti semalam. Cuma lebih besar titik-titik airnya, jadi kedengaran seperti hujan. Wah, jadi agak kehilangan mood juga nih, hujan begini.
Setelah itu kami shalat dan masak. Rombongan dari Jember yang semalam datang bersama dengan kami juga sudah bangun dan berjalan-jalan di sekitar pondokan. Rombongan ST kami ternyata belum bangun.
Setelah matahari muncul, senior kami mulai berdatangan. Saat itu tim atlet lagi makan havermut di pondokan SAR sedang tim ST yang sudah bangun mulai masak. Sambil makan, saya mendengar percakapan antara pak Hambali dengan senior yang intinya cuaca sedang buruk. Kabut tebal. Saya kira emang kalau pagi di sana kabutnya setebal itu. Eh, tahunya lagi cuaca buruk. Rombongan dari Jember yang janjian berangkat bareng kami pun harus menunda perjalanannya. Begitu pun kami. Awalnya waktu rembugan semalam, kami berencana hari ini jalan full sampai Arcopodo untuk mengejar ketertinggalan rundown (menurut rundown, seharusnya kami ke Ranu Kumbolo kemarin dan hari ini sudah mencapai Arcopodo).
Setelah makan, ngelipat dome, buang sampah, kami packing. Ritual packing inilah yang lama. Bisa sejam lebih. Padahal sebagai atlet seharusnya kami bisa packing dalam 15 menit. Mbambet. Begitulah.
Kelar packing, alhamdulillah cuaca mulai baikan. Kabut mulai hilang, cuma hujan masih turun. Rombongan dari Jember langsung berangkat begitu cuaca mulai terang. Sedang kami waktu itu masih packing, jadi nggak barengan berangkatnya.
Sempat waktu itu saya bertanya pada pak Hambali, berapa suhu udara semalam. Saya kira, karena sudah sangat amat terlalu menggigit bagi saya, saya kira sudah minus. Ternyata? “Ooh, tadi malam masih lumayan, masih 5 derajat”, kata pak Hambali. Glup, saya menelan kerikil.
Sekitar pukul 10.00 WIB, dengan memakai ponco karena masih hujan, kami mulai melakukan perjalanan. Sebelum itu doa sejenak. Kami atlet, ST, dan senior— berpelukan sambil mengelilingi bendera merah putih di halaman pondokan. Sebelum berangkat, pak Hambali memberi wejangan buat kami, “Yaa, intinya hati-hati saja. Saya nggak mau nambah prasasti lagi di sini. Tiap tahun ada prasasti, nggak mau saya”. Wejangan yang cukup maut, ngingetin saya akan prasasti yang saya temukan kemarin.
 Kami, 3 orang tim atlet ekspedisi, pun mulai berjalan.
Oh iya, jangan salah milih jalan. Yang pertama, dari pondok pendaki. Dari situ ada jalan naik. Jalan naik ini adalah track melalui gunung Ayek-ayek, jalur yang sering dipakai penduduk lokal. Jalur ini curam banget dan paling banyak makan korban. Sedangkan jalur satunya adalah jalur aman.
Untuk berjalan dengan jalur aman, dari pos perizinan kita jalan lurus. Jangan belok ke arah perkebunan penduduk ya. Ikutin aja jalan aspalnya. Setelah itu kita akan menemukan gapura selamat datang. Setelah dari situ, jalan akan bercabang dua. Jalan yang ke kiri menuju Lumajang dan jalan ke kanan ke arah perkebunan penduduk. Pilih jalan yang kanan. Setelah itu, akan ada jalan kecil jalur tracking yang mulai menanjak naik, nyempil di sisi kiri jalan ke perkebunan. Kita ikuti jalan nyempil itu.
Ngomong-ngomong, waktu itu kami sempat salah.  Waktu ada jalan nyempil itu, kami nggak sadar dan jalan terus. Untungnya rombongan pendaki di belakang kami ngingetin dan akhirnya kami kembali ke jalan yang benar.
Awal-awal jalur, kita akan nemuin jalan sempit dari paving. Tapi setelah beberapa saat, jalur dari paving itu akan berganti tanah. Jalur menuju Ranu Kumbolo ini sebenernya nggak terlalu nanjak, tapi emang pada dasarnya saya sudah downdy karena harus pake ponco yang pengap, jadilah belum lama kami berjalan, saya sudah minta break down. Thanks to mbak Lisa yang bersedia tukeran carrier sama saya, jadinya saya bawa beban yang lebih ringan.
Kondisi dalam perjalanan dari awal sampai akhir tetap sama. Kabut masih tebal dan embun masih turun sebagai hujan jarang-jarang. Jalur menuju Ranu Kumbolo ini dikelilingi hutan. Aromanya aroma khas hutan, seger-seger pinus gimanaaa gitu.
Nah, di jalur menuju Ranu Kumbolo ini ada 3 pos. Pos pertama yang kita jumpai jaraknya sekitar 1,5 jam dari Ranu Pani. Pos kedua, barulah jaraknya jauuh banget dari pos 1, yakni 2 jam. Tapi dari pos 2 ke pos 3 relatif singkat, yaitu setengah jam.
Meski di sini nggak ada papan penunjuk jalannya, tapi kalau saya perhatikan tiap beberapa meter ada tanda arah. Tanda itu adalah tali rafia warna selang-seling kuning-hitam yang diikatkan pada tanaman.
Oh iya, di track ini, ada 3 pos. Pos pertama bisa kita capai dalam waktu ±1,5 jam. Pos ini letaknya di kiri jalan. Kalau dari pos 1 ke pos 2 agak lama. Sekitar 2 jam atau lebih. sedangkan jarak dari pos 2 ke pos 3 cuma setengah jam. Satu hal yang nggak boleh kita tiru, di pos-pos tersebut banyak banget coretan-coretan pendaki yang pernah menginjak tempat itu. jangan dicontoh yaa! Karena bisa merusak keindahan. Selain itu jangan khawatir, sebelumnya di Ranu Pani kita bisa menjumpai papan vandalisme. Nah, di situ kita bisa coret-coret seenak kita, menandakan bahwa kita pernah di situ.
Waktu belum mulai jalan tadi, saya sempat kepikiran bahwa perjalanan pasti bakal sepi karena orangnya cuma 3. Tapi ternyata jalur pendakian ini kayak jalan raya! Asli! Kita banyak ketemu sama orang. Baik yang sama-sama naik maupun yang turun. Kayak waktu kami break selama sejam di pos 2. Di sana, sambil makan biskuit dan shalat dhuhur, kami ketemu dan kenalan dengan beberapa orang. Ternyata banyak juga yang dari Jakarta dan Malang. Antara lain ada seorang wanita paruh baya yang bernama Melani yang hiking dengan suami dan seorang temannya. Nah, dari beliaulah kami tahu bahwa akan ada pernikahan di puncak Semeru. Kabarnya masuk MURI sebagai pernikahan pertama di puncak gunung. Woow.
Setelah pos 2, kami menemukan pos 3. Duh, di sinilah saya mulai kecele. Nggak jauh setelah pos 3, kita bakal nemuin papan tanda yang tulisannya, “Ranu Kumbolo, 500 meter”. Wah udah semangat nih. 500 meter? Alhamdulillaaah! Tapi.... setelah 500 meter bahkan lebih, saya nggak juga menemukan tanda-tanda adanya danau. Ternyataaaa, Ranu Kumbolo masih lumayan jauh dari situ. Eh, tapi lumayan juga sih, saya jadi semangat karena ngiranya udah deket.
Mendekati Ranu Kumbolo, kami mulai keluar hutan. Jalan setapak menurun di depan kami seakan merupakan pintu gerbang ke alam lain. Ya, uniknya Semeru, vegetasinya macam-macam. Dan antara jenis vegetasi satu dan lain batasnya terlihat jelas. Seperti barusan. Setelah hutan, di depan kami langsung terhampar padang alang-alang. Alang-alang dan rumput-rumput rendah yang menguning memenuhi seluruh pandangan. Di kejauhan beberapa pohon menghiasi. Di depan kami, warna biru gelap yang luas terhampar, Ranu Kumbolo.
Uhh, breathtaking banget!
Karena kaki sudah capek, saya langsung ambruk di atas rumput, selonjor bersandarkan carrier, menikmati pemandangan. Begitu juga Nauval dan mbak Lisa. Tapi mbak Lisa hanya duduk sebentar, lalu bangkit dan mendekati bibir danau. Di sana ada bapak-bapak penduduk setempat yang sedang asyik memancing. Ternyata, mata pencaharian mereka adalah nelayan. Wah, ada ya nelayan di tengah gunung.
Tidak lama kami beristirahat, kami lalu meneruskan perjalanan. Tempat camp kami ternyata ada di seberang. Maksudnya seberang beneran. Jadi kami harus memutari separuh danau. Setelah mengambil jalan setapak di sebelah kanan, kami memasuki hutan lagi. Oh iya, sebelum memasuki hutan lagi, ada pemandangan yang ‘agak’ mistis. Tengoklah sebelah kanan, daerah perbukitan dengan alang-alang itu, yang kelihatan seperti padang rumput tak terbatas. Apalagi waktu itu sudah tertutup kabut. Saya penasaran, kalau diterusin ke situ, tembus ke mana ya?
Pukul 17.00 WIB kurang, sampailah kami di tempat camp. Ada dua buah pondok di situ, yang —lagi-lagi— penuh coretan dan lebih mirip reruntuhan rumah. Kami lalu membagi tugas. Mbak Lisa dan Nauval membuat dome, saya memasak. Kelar semua, kami ganti baju. Maklum, melewati hutan di pos 1,2, dan 3 tadi membuat baju kami basah meski memakai ponco. Dan kalau kami nggak ganti baju, bisa gawat. Seorang senior pernah mengatakan, mayoritas pendaki meninggal karena hypothermia, yaitu kedinginan.
Setelah itu makan. Susu yang tadi saya hangatkan sepertinya percuma, karena dalam waktu sebentar saja udara Ranu Kumbolo yang menusuk sudah membuat air susu seperti masuk kulkas. Setelah makan dan salat, kami mendiskusikan rundown perjalanan untuk esok.
Hanya sebentar kami menikmati keindahan Ranu Kumbolo. Sebagian besar waktu kami gunakan untuk persiapan camp. Selain itu, kabut juga sudah mulai turun di atas danau. Sempat kami melihat Tanjakan Cinta di belakang. Setelah itu, tiduuurrr. Alhamdulillah, tidur kami hangat dan nyaman serta tidak kedinginan. Terima kasih kepada mbak Mela yang bersedia meminjamkan sleeping bag buat kami. 

Catatan berlanjut ke Ekspedisi Semeru: Hari Ketiga
Reading Time: